FANATISME AGAMA DILIHAT DARI KACAMATA NEUROSAINS, BEGINI PENJELASAN DR. RYU HASAN

 

FANATISME AGAMA DILIHAT DARI KACAMATA NEUROSAINS, BEGINI PENJELASAN DR. RYU HASAN

Dalam sebuah paparan yang menarik, Dr. Ryu Hasan, Sp.BS, dari Circles Indonesia, membedah fenomena fanatisme agama melalui lensa neurosains dan evolusi. Menurutnya, kunci untuk memahami fanatisme terletak pada prinsip dasar sains dan cara kerja otak manusia.

Fanatisme sebagai Keuntungan Evolusioner

Dr. Ryu memulai dengan menjelaskan bahwa dalam sudut pandang evolusi, setiap perilaku yang bertahan lama pasti memberikan semacam keuntungan. Kehidupan di Bumi telah berlangsung selama 3,7 miliar tahun, sementara manusia modern (Homo sapiens) baru muncul sekitar 350.000 tahun yang lalu.

"Kalau agama itu bertahan lama di panggung kehidupan manusia, berarti bermanfaat secara evolusioner," jelasnya. Manusia adalah satu-satunya spesies yang diketahui memiliki agama, yang membedakannya dari spesies manusia purba lain seperti Neanderthal atau Homo erectus.

Fungsi Otak: Bertahan Hidup, Bukan Mencari Kebenaran

Dr. Ryu menekankan bahwa tujuan utama otak adalah mempertahankan kelangsungan hidup, bukan mencari kebenaran mutlak.

"Bagi otak kita, salah atau benar itu tidak penting. Yang penting puas," ujarnya. Ini menjelaskan mengapa nenek moyang kita bisa puas dengan cerita mitos asal-usul alam semesta, meski tidak faktual. Rasa puas ini mengurangi kecemasan dan membantu kelompok tetap stabil.

Akar Fanatisme: Perebutan Sumber Daya

Menurut Dr. Ryu, akar historis fanatisme terkait erat dengan kelangkaan sumber daya, khususnya cadangan kalori. Di masa lalu, ketika makanan terbatas, kelompok manusia membutuhkan motivasi kuat untuk bertahan dan bersaing.

"Pada saat kampung kita kekurangan kalori, ada suku sebelah kelebihan kalori, diperlukan alasan untuk menyerang suku sebelah. Fanatisme dalam hal ini memungkinkan satu suku menyerang suku lain," paparnya.

Fanatisme, baik berbasis suku, keluarga, atau agama, memberikan "alasan" dan ikatan yang kuat untuk mengoordinasi kelompok dalam merebut sumber daya yang vital untuk kelangsungan hidup.

Fanatisme dan Realitas Intersubjektif

Kemampuan bahasa memungkinkan manusia menciptakan apa yang oleh Yuval Noah Harari disebut "realitas intersubjektif". Ini adalah keyakinan bersama yang dianggap nyata oleh suatu kelompok, meskipun sebenarnya adalah konstruksi bersama.

"Indonesia itu pernah tidak ada. Terus kita ada-adakan jadi ada," kata Dr. Ryu memberi contoh. Pada 17 Agustus 1945, Indonesia "diciptakan" dan seketika ada orang yang rela mati untuknya. Fanatisme terhadap negara, suku, atau agama adalah contoh realitas intersubjektif yang powerful.

Realitas ini bersifat hierarkis. Keluarga diikat dalam kelompok (flok), kelompok dalam suku, suku dalam negara, dan negara bisa diikat oleh agama. Namun, Dr. Ryu mencatat, ada realitas intersubjektif yang bahkan lebih kuat dari agama: uang. Uang adalah sistem keyakinan global yang diterima oleh semua pihak, terlepas dari perbedaan agama atau ideologi.

Fanatisme adalah Mekanisme Bertahan Hidup

Kesimpulan dari Dr. Ryu adalah bahwa fanatisme, dilihat dari kacamata neurosains, pada dasarnya adalah sebuah mekanisme evolusioner yang sukses.

"Fanatisme itu memberikan keuntungan evolusioner, bisa membuat kita bisa bertahan hidup," tutupnya. Perilaku ini tertanam dalam otak karena telah teruji membantu nenek moyang kita bertahan dalam lingkungan yang keras dan kompetitif.

Penjelasan ini menawarkan perspektif yang berbeda, menjauhkan dari penilaian moral "baik" atau "buruk", dan lebih pada memahami "mengapa" fenomena fanatisme bisa ada dan bertahan dalam perjalanan sejarah manusia.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=enwvn0CafBU  | 4 Jun 2025 |

๐Ÿ’ก

Tips: Cara Menggunakan Google Search Preview

Untuk menggunakan Google Search Preview di artikel Anda:

Langkah-langkah:

  • Klik tombol 'G' di toolbar editor Blogger
  • Cari topik terkait artikel Anda
  • Pilih hasil yang relevan
  • Sisipkan ke dalam artikel
  • Edit sesuai kebutuhan

Kata kunci yang direkomendasikan untuk PsikoSpiritual:

  • MBTI personality types
  • Carl Jung archetypes
  • Enneagram test
  • Life Path Number
  • Zodiac signs dates
  • Chinese zodiac animals
  • Balinese calendar Pawukon
  • Feng Shui 2024
Sumber: Google Search Preview - Panduan Editor TIPS

Artikel Terkait Lainnya